Alun-alun adalah karikatur diri khas kota-kota Jawa.
Garut pun memiliki
alun-alun. Alun-alun Garut yang cukup luas juga memiliki pola-pola yang sama
dengan alun-alun di kota lainnya. Pengaturan pola pemerintahan menggunakan sistem macapat yaitu
pusat pemerintahan berada ditengah-tengah dengan fasilitas pendukung di empat
penjuru mata angin. Pada sistem ini, di sekitar alun-alun
terdapat tempat tinggal bupati, tempat pemujaan (masjid), perkantoran, penjara
dan juga pasar yang terletak beberapa meter saja dari alun-alun. Susunan ini
masih bisa ditemukan dikota-kota di Indonesia sekarang. Selain itu ciri umum alun-alun di kota-kota
tua adalah sekelilingnya dibatasi oleh jalan (dahulu
di depan Masjid Agung Garut ada jalan). Tetapi, di Garut memiliki sebuah
perbedaan. Perbedaan tersebut terletak pada berdirinya sebuah “Babancong” yang
merupakan satu-satunya di Indonesia.
![]() |
Alun-Alun Garut tempo dulu Sumber : Fuzie Ibnu Maxum |
Di
barat alun-alun terdapat Masjid Agung Garut yang megah. Dulu masjid ini dinamai
masigit. Di sebelah barat bangunan masjid terdapat pemakaman para bupati Garut.
Di sinilah pembesar-pembesar Garut zaman dahulu dimakamkan. Di antaranya
terdapat makam Penghulu Besar LImbangan, R.H. Moehamad Moesa, dan R.A.A. Wirata-nudatar
serta istrinya, Raden
Ayu Lasminingrat.
Di
sebelah utara alun-alun terdapat Kantor Pembantu Gubernur Wilayah Priangan
(Bakorwil). Kantor tersebut awalnya adalah Kantor Asisten Residen Belanda untuk
Wilayah Priangan. Sementara di sebelah timur alun-alun terdapat penjara.
Penjara
ini cukup bersejarah. Di situlah beberapa orang
pejuang Garut – baik pada zaman Belanda maupun zaman Jepang – dipenjarakan karena menentang
pemerintahan kolonial dan memperjuangkan kemerdekaan. Salah seorang yang pernah
berkali-kali dijebloskan ke penjara ini adalah K.H. Mustafa Kamil, ulama Garut
yang sering membangkang pada kebijakan pemerintah kolonial. Oleh sebab itu,
ketika penjara ini hendak dialihfungsikan menjadi komplek pertokoan, banyak
orang yang menentangnya. Karena, seharusnya penjara Garut dijadikan situs
bersejarah dan dilindungi sebagai cagar budaya.
1= Masjid Agung Garut (Barat)
2= (bekas)Lembaga Permasyarakatan
Garut
3= Badan Koordinasi Wilayah Priangan
4= Pendopo & babancong
U= Utara
Gambar di atas mungkin sebagian
orang telah melihatnya karena pernah saya posting di blog saya. Dulu, di sebelah utara alun-alun
terdapat sebuah monumen yang dibangun untuk memperingati jasa seorang Belanda yang dianggap besar perhatiannya
dalam memajukan masyarakat Garut. Dia adalah Karel Frederik Holle, sahabat
karib Moehamad Moesa. Monumen itu dikenal sebagai Monumen Holle. Pada satu
sisinya terdapat relief gambar Holle dan beberapa kata yang menerangkan
jasa-jasanya.
Sayang
monumen itu diruntuhkan pada jaman Jepang. Maklum, Jepang memang sangat anti
Belanda. Konon, monumen itu tidak sepenuhnya dihancurkan. Bangunan hanya
dirubuhkan, kemudian dikubur di tempatnya berdiri. Hal
ini yang ditempuh Belanda untuk untuk melestarikan relief Van Holle.
Tugu K.F. Holle sebelum
diruntuhkan
Sumber : aleut.wordpress.com
Hingga akhirnya, ahli waris Van Holle tersebut
bertandang ke Garut pada akhir kepemimpinan Bupati Toharudin Gani. Mereka
berniat untuk membangun kembali monumen di Van Holle di kawasan perkebunan
Cisaruni, Cikajang. Tak banyak orang tahu, relief tersebut terpajang di kawasan
Perkebunan Teh Giriawas, Cikajang, Garut.
Tugu K.F. Holle di Cikajang
Sumber : Dok. Pribadi
Bukan hanya
peristiwa itu yang terjadi di alun-alun Garut. Banyak peristiwa besar dari masa
ke masa terjadi di alun-alun Garut sejak pembangunannya pada tahun 1813. Kini
alun-alun Garut difungsikan menjadi ruang publik
untuk melakukan berbagai interaksi. Interaksi tersebut antara lain yaitu
melakukan kegiatan olah raga, pasar malam, kegiatan luar kelas anak-anak
sekolah, sepasang kekasih yang memadu cinta, melaksanakan upacara bendera pada
hari besar negara, dan lain sebagainya.
Saat ini, setiap hari, suasana di
Alun-Alun Garut selalu meriah dengan hadirnya berbagai jasa hiburan yang
terdapat disana yang umumnya hiburan untuk anak kecil seperti delman domba,
bebecaan, odong-odong dan masih banyak lagi.
0 komentar:
Posting Komentar